Samalanga, Bireuen – Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh bahkan di Semenanjung Sumatera, kini sedang mengalami transformasi besar.
Di bawah kepemimpinan dan dukungan intelektual dari para doktor serta profesor—baik dari kalangan pimpinan maupun alumni—dayah legendaris ini memasuki era baru yang menggabungkan tradisi keilmuan klasik dengan tuntutan zaman modern.
Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari Masjid Raya Poe Teumeureuhom Samalanga. Didirikan seiring pembangunan masjid tersebut pada masa Kesultanan Aceh Darussalam (era Sultan Iskandar Muda), dayah ini awalnya berpusat di masjid dan dipimpin oleh ulama-ulama besar seperti Faqeh Abdul Ghani. Selama ratusan tahun, MUDI menjadi gudang ilmu agama yang melahirkan ribuan teungku dan ulama yang berpengaruh di Aceh.
Dayah MUDI mengalami perkembangan yang pesat pada era kepemimpinan Tgk. H. Abdul Aziz (Abon Aziz). Banyak terobosan yang dibuat oleh Allah yarham Abon Aziz sehingga menarik banyak peminat, di samping beliau sendiri adalah magnet utama ketertarikan santri untuk menuntut ilmu di MUDI.
Ketika kepemimpinan beralih ke Abu MUDI (Abu Syekh H. Hasanoel Basri HG), transformasi dimulai secara bertahap namun tegas. Abu MUDI pada tahun 2003 membuka Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STAI) Al-Aziziyah di lingkungan dayah dengan menekankan beberapa persyaratan. Salah satunya adalah santri MUDI baru dibolehkan untuk kuliah jika sudah menamatkan kitab I’anah al-Thalibin. Suatu kitab fiqh kelas menengah yang menandakan bahwa santri yang sudah menguasai kitab ini sudah terlepas dari fardu ain. Kini, sejak didirikan, STAI telah mengalami perkembangan pesat dengan berubah status menjadi Institut Agama Islam pada tahun 2016 dan menjadi Universitas pada tahun 2023 dengan nama Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI).
Abu MUDI menginisiasi pembangunan kampus bukan tanpa alasan, setidaknya ada dua alasan utama. Pertama, banyak santri kala itu diam-diam pergi keluar dayah untuk menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi, baik di Aceh maupun luar Aceh. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran bahwa santri-santri berbakat akan meninggalkan pengajiannya di Dayah demi melanjutkan pendidikannya di luar. Dengan membangun kampus di lingkungan dayah, Abu berharap itu dapat menjadi alternatif bagi santri dan guru-guru yang ingin mendapatkan gelar sarjana. Kini, setelah 23 tahun pendiriannya, ribuan alumni MUDI mendapatkan gelar sarjana, ratusan mendapatkan gelar Magister, dan puluhan orang sudah mencapai predikat Doktor. Bahkan menantu Abu, Prof. Dr. Ayah H. Muntasir A. Kadir, MA sukses mendapatkan gelar Profesor, suatu kasta tertinggi dalam dunia akademik.
Kedua, Abu ingin meneruskan cita-cita Abon Aziz bahwa teungku-teungku dayah harus mengisi posisi penting keagamaan dalam pemerintahan. Tanpa gelar akademik yang diakui negara, bagaimana mungkin cita-cita itu dapat diwujudkan? Jika posisi vital keagamaan tidak diduduki oleh santri dan teungku dayah, para ulama khawatir banyak hukum islam yang akan diabaikan, atau salah diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Kini, terbukti banyak alumni MUDI yang sudah mendapatkan gelar sarjana berinfiltrasi dalam masyarakat dalam berbagai posisi dan kedudukan, bukan hanya teungku yang tugasnya mengajar di rangkang atau balai pengajian. Ada yang menjadi dosen senior, menjadi kepala KUA, menjadi penyuluh, menjadi PNS, TNI, Polisi, Politikus, bahkan ada yang menjadi Hakim Mahkamah Syar'iyah. Tentu saja tidak pernah berhenti melahirkan ulama-ulama muda yang mengisi setiap era di zamannya.
Selain itu, di bawah kepemimpinan Abu MUDI, salah satu wujud nyata era baru ini adalah berdirinya Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga, perguruan tinggi Islam yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman. Ma’had Aly ini menjadi bukti bahwa dayah tidak lagi hanya mengajarkan kitab kuning secara tradisional, melainkan juga siap melahirkan generasi yang mampu berkompetisi di tingkat nasional dan global tanpa meninggalkan akar tradisi “beuët dan seumubeuët”.
Abu MUDI sendiri sering disebut sebagai sosok visioner yang mendorong santri untuk mengejar ilmu tinggi. Beliau menekankan pentingnya tata kelola dayah yang modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan klasik.
Workshop penguatan struktur organisasi, pembukaan pendaftaran santri baru secara terjadwal, serta kegiatan seperti mubahatsah (debat ilmiah) dan safari dakwah menunjukkan bahwa dayah ini semakin terstruktur dan terbuka.
Tantangan dan Harapan di Era Baru
Memasuki era ini, Dayah MUDI menghadapi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, harus mempertahankan ruh keagamaan dan tradisi mengaji kitab kuning yang menjadi ciri khas. Di sisi lain, harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang relevan dengan zaman—termasuk literasi digital, bahasa asing, dan keterampilan kepemimpinan.
Dengan dipimpin dan didukung oleh para doktor serta profesor, MUDI Mesjid Raya Samalanga kini tampil sebagai model dayah modern yang tetap tradisional. Bukan lagi pilihan antara “tradisi atau modern”, melainkan tradisi sekaligus modern. Bagi masyarakat Aceh, khususnya generasi muda yang ingin mendalami ilmu agama sekaligus siap menghadapi tantangan kontemporer, Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga menjadi pilihan yang semakin relevan. Didukung jaringan alumni yang sudah mengakar di setiap lini kehidupan, MUDI menawarkan jenjang karier yang menjanjikan.
Pendaftaran santri baru terus dibuka setiap tahun dengan beberapa gelombang, dan Ma’had Aly juga menerima mahasantri baru. Ini menandakan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat terhadap lembaga yang telah berusia ratusan tahun ini.
Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga bukan sekadar pesantren lama yang bertahan. Dengan kepemimpinan intelektual dari doktor dan profesor, ia kini bangkit menjadi dayah masa depan—tempat di mana ilmu warisan leluhur bertemu dengan cahaya pengetahuan baru untuk mencerdaskan umat.
Abu MUDI dalam amanatnya tadi malam (Rabu, 01 April 2026), menyampaikan beberapa poin penting untuk santri dan dewan guru dayah MUDI, di antaranya adalah untuk membantu dayah dalam setiap kesempatan. “Jika kita membantu dayah, berkhidmat kepada dayah, maka ketika kita membangun dayah sendiri nanti juga akan banyak yang membantu,” kata Abu.
Abu juga menyampaikan kepada teungku-teungku untuk tidak malu bertanya dan belajar kepada adik letting jika menemukan sesuatu yang perlu ditanyakan. Ini sebagai ajaran untuk tidak sombong dan merasa diri pintar. Terakhir, Abu menyayangkan banyak teungku-teungku yang lebih banyak duduk di warung kopi ketimbang di dayah.
Berikut profil singkat setiap Mudir dan Wadir MUDI Mesjid Raya Samalanga
Dr. Abi H. Zahrul Mubarak HB, M.Pd
Dilantik sebagai Mudir Tanfidzi (Direktur Eksekutif). Beliau merupakan doktor lulusan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) dengan predikat cumlaude dan telah lama aktif sebagai Wadir I sebelumnya.
Dr. Aba H. Helmi Imran, MA
Dilantik sebagai Wadir I. Selain menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, beliau juga dosen senior di UNISAI dan Mahad Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga, dan aktif mengisi pengajian di berbagai wilayah di Aceh. Dalam beberapa kesempatan bahkan sudah dipercaya untuk menggantikan Abu MUDI dalam mengisi pengajian.
Prof. Dr. Ayah H. Muntasir A. Kadir, MA
Dilantik sebagai Wadir II. Prof. Ayah Muntasir, yang juga dikenal sebagai ulama dan Guru Besar Ilmu Politik Islam di UNIMAL, membawa pengalaman akademik tinggi dari perguruan tinggi ternama. Beliau juga Ketua PCNU Bireuen dan anggota MPU Aceh. Beliau sosok di balik suksesnya kampus UNISAI sejak awal pendiriannya.
Abina Abdul Muhaimin, S.Sos., MH
Dilantik sebagai Wadir III. Beliau dianggap sebagai tokoh muda Aceh yang visioner, terutama setelah dirinya berkecimpung dalam ranah politik.
Setelah pelantikan mereka tadi malam (Rabu, 01 April 2026), menarik untuk melihat bagaimana perkembangan MUDI kedepan. Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Wallahu a'lam.

0 Komentar