BIREUEN- Perubahan lanskap komunikasi akibat digitalisasi telah menggeser pola interaksi sosial, termasuk dalam praktik dakwah. Generasi digital—yang tumbuh bersama media sosial dan budaya visual—memiliki karakter komunikasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka lebih dialogis, partisipatif, cepat, dan berbasis narasi. Dalam konteks ini, dakwah tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian pesan (tabligh), tetapi juga harus memperhatikan strategi komunikasi yang efektif.
Dalam perspektif Ilmu Dakwah, dakwah merupakan proses komunikasi transformatif yang bertujuan mengubah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan perilaku (behavioral) mad‘u. Artinya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari tersampaikannya pesan, tetapi dari sejauh mana pesan itu dipahami, diterima, dan diinternalisasi.
Al-Qur’an telah memberikan landasan metodologis yang sangat komunikatif:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Dalam teori komunikasi, ayat ini dapat dipahami sebagai prinsip adaptasi pesan terhadap audiens. “Hikmah” menunjukkan pentingnya pemilihan strategi yang tepat; “mau‘izhah hasanah” mengandung unsur persuasi yang menyentuh emosi; dan “mujadalah billati hiya ahsan” menegaskan etika dialogis dalam ruang publik.
Dakwah sebagai Proses Komunikasi Persuasif
Dalam teori komunikasi modern, terutama model komunikasi persuasif, efektivitas pesan ditentukan oleh kredibilitas komunikator, relevansi pesan, dan kedekatan psikologis dengan audiens. Rasulullah ï·º telah mencontohkan prinsip ini melalui pendekatan yang humanis. Beliau bersabda:
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung prinsip komunikasi persuasif yang menghindari resistensi audiens. Dalam konteks generasi digital, bahasa yang terlalu menghakimi atau konfrontatif akan memicu defensif psikologis. Sebaliknya, pendekatan yang empatik akan membuka ruang penerimaan.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din juga menekankan bahwa nasihat harus disampaikan dengan kelembutan dan niat perbaikan, bukan untuk merendahkan. Secara komunikatif, ini sejalan dengan teori komunikasi interpersonal yang menekankan pentingnya empati dan kesetaraan dalam interaksi.
Naratif sebagai Strategi Komunikasi Dakwah
Salah satu karakter generasi digital adalah kecenderungan pada storytelling. Dalam kajian komunikasi, narasi memiliki kekuatan membangun identifikasi emosional dan mengurangi resistensi terhadap pesan. Al-Qur’an sendiri banyak menggunakan kisah sebagai metode edukatif.
Di Aceh, tradisi dayah dan pesantren sebenarnya telah lama menggunakan pendekatan naratif melalui kisah ulama, hikayat, dan pengalaman spiritual. Tantangannya hari ini adalah mentransformasikan narasi tersebut ke dalam format digital tanpa kehilangan substansi ilmiah.
Dakwah naratif bukan berarti mengurangi kedalaman hukum, tetapi membingkainya dalam konteks kehidupan nyata generasi muda—mulai dari tantangan pergaulan digital, krisis identitas, hingga problem keluarga.
Empati sebagai Modal Sosial Dakwah
Dalam perspektif komunikasi sosial, empati membangun trust (kepercayaan). Tanpa kepercayaan, pesan dakwah sulit diterima. Generasi digital cenderung kritis terhadap otoritas yang dianggap tidak autentik. Karena itu, dai tidak hanya dituntut menguasai dalil, tetapi juga memahami realitas sosial mad‘u.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal mereka.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi prinsip segmentasi audiens dalam komunikasi modern. Pesan yang efektif adalah pesan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman, pengalaman, dan kebutuhan audiens.
Solutif dan Kontekstual
Ilmu Dakwah menempatkan dakwah sebagai proses islah (perbaikan sosial). Oleh karena itu, dakwah tidak boleh berhenti pada normativitas, tetapi harus menawarkan solusi. Di Aceh, misalnya, isu perceraian, tekanan ekonomi, dan pengaruh budaya digital global memerlukan pendekatan dakwah yang aplikatif dan berbasis pemberdayaan.
Pesantren dan dayah memiliki potensi menjadi pusat literasi digital keislaman yang moderat dan otoritatif. Santri yang memahami turats sekaligus teknologi dapat menjadi agen dakwah yang relevan dan adaptif.
Menjaga Substansi, Menguatkan Strategi
Secara teoretis, dakwah adalah komunikasi nilai yang bersumber dari wahyu, tetapi disampaikan melalui medium sosial yang terus berubah. Substansi Islam tetap, namun strategi komunikasi harus dinamis.
Bahasa dakwah untuk generasi digital perlu bersifat:
- Naratif – membangun kedekatan emosional melalui kisah dan refleksi.
- Empatik – memahami realitas psikologis dan sosial audiens.
- Solutif – menawarkan jalan keluar konkret atas problem aktual.
Jika pendekatan ini dikembangkan, maka dakwah di era digital bukan hanya mempertahankan identitas keislaman Aceh, tetapi juga memperkuat peradaban yang berakar pada tradisi dan relevan dengan zaman.
Oleh: Dr. Munawir, M.Ag (Dosen UNISAI Samalanga)

0 Komentar